RSS

Rock Climbing

01 Jan

ROCK CLIMBING

Kegiatan memanjat cukup banyak mandapat perhatian kalangan pencinta alam, pendaki gunung, masyarakat dan mass-media. Sebagian besar kelompok mereka akan merasa ketinggalan jaman jika tidak memberikan mata pelajaran memanjat  tebing.  Padahal  kegiatan  merambah  tebing  terjal  ini  sebenarnya sudah lama dilakukan oleh penduduk dibanyak desa di Indonesia.

Dalam pemanjatan para pendaki gunung umumnya menghadapi dinding atau tebing terjal, dengan sudut kemiringan antara 60 dan 90 derajat atau bahkan lebih. Pendakian seperti ini jelas lebih sulit karena pendaki dituntut untuk mampu memanfaatkan tonjolan atau rekahan sebagai tumpuan dalam pemanjatan. Fungsi tangan menjadi mutlak, baik untuk tumpuan maupun untuk penyeimbang beban tubuh sewaktu melakukan gerakan-gerakan memanjat.

Ada dua jenis pemanjatan : pemanjatan tanpa pengaman atau merayap bebas dan pemanjatan menggunakan pengaman. Pada yang pertama, pendaki mengandalkan kekuatan jemari tangan sepenuhnya dan keterampilan mengatur keseimbangan tubuh. Motivasi pemanjatan tanpa pengaman adalah ingin menghadapi tantangan yang lebih besar. Kini di tanah air lebih berkembang pemanjatan dengan pengaman. Pemanjatan yang melibatkan berbagai macam pengaman dan tali ini minimal harus dilakukan oleh dua orang. Orang pertama bertugas sebagai pencari atau pembuka jalan, sekaligus memasang pengaman pada  jarak-jarak  tertentu.  Orang  kedua  sebagai  “penambat”  (belayer)  atau orang yang mengamankan orang pertama melalui tali yang terikat di pinggang atau sabuk pengamannya masing-masing.

Meskipun  sudah  memakai  pengaman,  tidak  berarti  pemanjatan  ini menjadi mudah. Kedua cara pemanjatan itu tetap bertumpu pada kekuatan dan keterampilan dalam memanjat kecuali jika alat pengaman juga digunakan sebagai alat bantu penambah ketinggian. Dalam artificial atau aid climbing, alat pengaman dimanfaatkan sebagai tumpuan atau pijakan sewaktu pemanjat berusaha meraih pegangan yang ada di atasnya. Kalau alat pengaman semata- mata dipakai sebagai pengaman, pemanjatannya disebut free climbing.

KNOWLEDGE OF ROPES

Kegiatan memanjat cukup banyak mandapat perhatian kalangan pencinta alam, pendaki gunung, masyarakat dan mass-media. Sebagian besar kelompok mereka akan merasa ketinggalan jaman jika tidak memberikan mata pelajaran memanjat  tebing.  Padahal  kegiatan  merambah  tebing  terjal  ini  sebenarnya sudah lama dilakukan oleh penduduk dibanyak desa di Indonesia.

Dalam pemanjatan para pendaki gunung umumnya menghadapi dinding atau tebing terjal, dengan sudut kemiringan antara 60 dan 90 derajat atau bahkan lebih. Pendakian seperti ini jelas lebih sulit karena pendaki dituntut untuk mampu memanfaatkan tonjolan atau rekahan sebagai tumpuan dalam pemanjatan. Fungsi tangan menjadi mutlak, baik untuk tumpuan maupun untuk penyeimbang beban tubuh sewaktu melakukan gerakan-gerakan memanjat.

Ada dua jenis pemanjatan : pemanjatan tanpa pengaman atau merayap bebas dan pemanjatan menggunakan pengaman. Pada yang pertama, pendaki mengandalkan kekuatan jemari tangan sepenuhnya dan keterampilan mengatur keseimbangan tubuh. Motivasi pemanjatan tanpa pengaman adalah ingin menghadapi tantangan yang lebih besar. Kini di tanah air lebih berkembang pemanjatan dengan pengaman. Pemanjatan yang melibatkan berbagai macam pengaman dan tali ini minimal harus dilakukan oleh dua orang. Orang pertama bertugas sebagai pencari atau pembuka jalan, sekaligus memasang pengaman pada  jarak-jarak  tertentu.  Orang  kedua  sebagai  “penambat”  (belayer)  atau orang yang mengamankan orang pertama melalui tali yang terikat di pinggang atau sabuk pengamannya masing-masing.

Meskipun  sudah  memakai  pengaman,  tidak  berarti  pemanjatan  ini menjadi mudah. Kedua cara pemanjatan itu tetap bertumpu pada kekuatan dan keterampilan dalam memanjat kecuali jika alat pengaman juga digunakan sebagai alat bantu penambah ketinggian. Dalam artificial atau aid climbing, alat pengaman dimanfaatkan sebagai tumpuan atau pijakan sewaktu pemanjat berusaha meraih pegangan yang ada di atasnya. Kalau alat pengaman semata- mata dipakai sebagai pengaman, pemanjatannya disebut free climbing.

“KECELAKAAN JUSTRU TERJADI AKIBAT KESALAHAN DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN, BUKAN KESALAHAN PERLENGKAPAN”

(Royal Robbins, Advance Rockcraft)

Gambar 1 Jenis Tali

PEMELIHARAAN TALI

Hal yang patut diperhatikan dari tali dari bahan nilon adalah  rendahnya titik leleh dari serabut nilon tersebut.  Panas yang dapat melelehkan tali terjadi dari daya gesek pada saat penggunaan (gesekan dari tali dengan static loop). Tali nilon juga akan mudah dipotong pada saat tegang, batuan tajam dan permukaan yang kasar dapat membuat kerusakan yang membahayakan. Kerusakan pada Tali dapat menyebabkan perasaan tidak aman pada saat digunakan.  Penampilan dari Tali haruslah dapat meyakinkan pengguna untuk merasa bahwa tali yang digunakan adalah alat yang sangat-sangat aman.

Tidak ada seseorangpun yang akan menanggung tanggung jawab dari penggunaan tali, jangan pernah menggunakan tali basah (washing  line) atau tali penderek kendaraan (dosa terbesar dari penggunaan tali).  Jika tali kotor, cuci tali untuk menghilangkan pecahan kecil yang dapat merusak serabut/serat. Penggunaan mesin cuci dengan air dingin tanpa detergent merupakan cara paling baik untuk mencuci tali.  Setelah itu tali disimpan dalam keadaan harus tergulung

Beberapa point penting dalam pemeliharaan tali sintetis :

·    Bila tidak digunakan, tali harus tetap dalam keadaan tergulung rapih dan sebaiknya digantung.

·    Jangan digunakan melebihi kekuatannya.

·    Jangan pernah menginjak, menduduki atau meletakkan benda yang berat diatas tumpukan tali.

·    Simpan tali dalam ruangan yang berventilasi baik.

·    Biasakan menyimpan tali dalam keadaan kering, bila lembab, jangan digulung atau disimpan, tunggu sampai tali benar-benar kering.

·    Jauhkan dari bahan kimia dan sinar matahari langsung.

·    Untuk  tali  yang  dipergunakan  dalam  caving dan  rock   climbing usahakan memperlakukan tali dengan lembut dan jauhkan dari batu atau benda tajam lain. Pakailah simpul yang benar karena hal ini juga mempengaruhi usia tali.

·    Periksalah  tali  secara  teratur,  terutama  setelah  dipergunakan  atau sewaktu akan dipakai.

·    Jangan pernah meminjam dan meminjamkan tali jika tidak yakin dengan keadaan  tali  tersebut  dan  jangan  memakai  tali  yang  diduga  sudah kurang baik.

PERHATIKAN TALI ANDA

DAN TALI ANDA AKAN MENYELAMATKAN  ANDA !!!!!!


Periksa tali setiap saat dengan teliti dan luangkan waktu sebanyak mungkin. Perhatikan kerusakan tali seperti sobeknya lapisan luar/pembungkus serat. Jauhkan tali dari benda-benda panas dan simpan pada tempat yang teduh.

Kapan waktunya untuk mempensiunkan tali ??? adalah saran yang sangat sulit.  Tetapi sebagai panduan adalah seberapa sering tali tersebut digunakan dan bagaimana perlakuan terhadap tali tersebut. Tak pelak lagi penggunaan tali oleh para penjelajah akan lebih awet dibanding dengan penggunaan tali oleh pemanjat tebing.

PANDUAN PALING TEPAT,

“BILA RAGU PADA TALI ANDA, BUANG SAJA”

KNOTS (SIMPUL)

Jenis-Jenis Simpul

Dalam tali-temali perlu dikuasai teknik membuat simpul dan penggunaannya secara tepat, sebab kekuatan tali ditentukan juga oleh kekuatan simpulnya. Simpul yang baik akan kuat, tetapi mudah diuraikan kembali, sebaliknya simpul yang buruk akan mudah lepas, tidak kuat dan mungkin sulit diuraikan.

Penggunaan simpul sangat diperlukan dalam kegiatan-kegiatan di alam bebas. Untuk dapat menguasai simpul-simpul yang sangat banyak jenisnya, perlu latihan dan kebiasaan.

Sebagai dasar, inilah beberapa simpul-simpul dasar yang harus dikuasai :

NAMA SIMPUL

KEGUNAAN

Simpul Ujung Tali :· Simpul Delapan Ganda (double figure eight)· Simpul Tubuh (Bowline on the Bight)

· Simpul Nelayan (fisherman knot)

· Simpul Pita (tape knot)

 

· Simpul Tambat

Simpul Tengah Tali :

 

· Simpul Delapan Ganda (double figure eight)

· Simpul Rem Tambat (Clove hitch)

 

· Simpul Jerat Tambat (Italian hitch)

 

 

 

· Simpul Jerat Geser (Prussik)

 

 

Menjaga agar pintalan tali tidak mudah lepas.Dapat digunakan sebagai pengikat pada tubuh (seat  harness) leader atau orang yang kita belay/amankan.Sering kita sebut simpul kambing berguna sebagai pengikat pada tubuh (seat harness).Sebagai simpul sambung tali yang sama besar.Sebagai simpul sambung pita/webbing, sebagai simbul tali tubuh dan simpul pada sling.

Sebagai ikatan/tambatan pertama pada ANCHOR untuk suatu lintasan High Rope Element.

Untuk mengikat tali pada suatu lintasan dan dapat menjadikan suatu tambatan.

Mengikatkan tali pada pengaman dan dapat digunakan sebagai fixrope suatu lintasan.

Mengikatkan tali pada tiang atau untuk mengikat  kayu  atau  barang  berat  lainnya yang akan diangkut atau dibawa juga sebagai penambat.

Dapat digunakan sebagai alat turun/rappling dan belayer/penambat.

Digunakan untuk meniti tali untuk menambah ketinggian, menarik atau menahan beban dan dapat digunakan sebagai pengunci.

Gambar-gambar Simpul

Simpul merupakan alat penting dalam kegiatan alam bebas. Penggunaan simpul yang baik dan tepat akan mengamankan kegiatan kita.

Gambar 3. FIGURE 8 REWOVEN KNOTS (Simpul Delapan Ganda Ujung Tali)

Buat simpul 8 pada tali tunggal  kemudian sisakan ujung yang agak panjang, sisipkan seputar pegangan  kemudian ikuti tali terdahulu tapi dengan urutan terbalik dari simpul 8.

Gambar 4.  FIGURE 8 LOOP KNOTS (Simpul Delapan Ganda Tengah Tali)

Simpul ini merupakan simpul yang baik untuk sosok pinggang pohon dan thread belay dimana tidak ada kemungkinan untuk memasukan/menyisipkan simpul dari atas pegangan.

Gambar 5.  BOWLINE  KNOTS (Simpul Kambing)

Figure  8 loop adalah simpul yang efektif daripada overhand  loop untuk membentuk pegangan pada pinggang  Simpul yang baik untuk pemula karena jika terdapat kesalahan masih merupakan simpul yang aman digunakan.  Simpul ini sangat mudah dilepas.

Gambar 6.  DOUBLE FISHERMAN KNOTS (Simpul Nelayan Ganda)

Single  Bow Line merupakan simpul standar. Jangan mengikat tali terlalu ketat pada pinggang, ukuran yang baik adalah seukuran lingkar bawah tulang iga, sisakan sekitar 30 – 50 cm dan ikat dengan simpul overhand pada sosok pinggang.

Gambar 7.  TAPE KNOTS (Simpul Pita)

Simpul terbaik untuk menyatukan dua ujung tali.  Setiap ujung tali yang satu, dua kali melewati ujung tali yang lain dan kembali melewati sosok yang telah dibuat sebelumnya. Sisakan setiap ujung 15 – 23 cm.

Gambar 8.  PRUSSIK KNOTS (Simpul Jerat Geser)

Sering kali digunakan untuk menyatukan pita untuk membuat sling atau tali tubuh.

Simpul ini digunakan dalam teknik pemanjatan dengan cara meniti pada tali. Simpul ini akan ”menegang” apabila mendapat beban dan akan mengendur apabila tarikan dikurangi.

Gambar 9.  CLOVE HITCH (Simpul Pangkal/Kacamata)

Simpul pangkal sangat dikenal oleh semua aktivitas alam bebas karena simpul ini sangat mudah dan banyak kegunaannya dan selalu digunakan untuk sebuah penambatan pada pemanjatan.

Gambar 10.  ITALIAN HITCH (Simpul Tambat)

Simpul italian hitch digunakan sebagai fungsi belayingpada sebuah aktivitas alam bebas terutama pada kegiatan pemanjatan bahkan sebelum ada belay equipmentdan rappling equipmentseperti sekarang ini.
IKATAN

Tali dapat juga dipergunakan untuk menyatukan benda-benda yaitu dengan menggunakan ikatan. Macam-macam ikatan adalah tergantung bagaimana posisi benda yang akan disatukan tersebut. Mengikat dua buah benda kayu dengan posisi diagonal tentu berbeda dengan cara mengikat tiga buah  patok  yang  bertumpuk  (standard  kaki  tiga).  Ikatan  banyak  gunanya, antara lain untuk membuat kerangka shelter/bivouac, menyatukan tumpukan kayu/barang berat agar mudah dibawa/diangkat, membuat tangga kayu dan sebagainya.

Biasakanlah membuat ikatan dengan rapih seperti halnya membuat simpul, karena akan mempengaruhi kekuatan dan daya tahan persatuan benda-benda tersebut.

HARNESSES and OTHER EQUIPMENT

Harness merupakan alat pribadi yang harus dimiliki oleh semua aktivitas alam bebas terutama untuk beberapa kegiatan tertentu yang sangat spesifik membutuhkan pengaman, misalnya untuk kegiatan olah raga panjat tebing, caving (penelusuran gua), rappling (turun tebing), river crossing dan lain sebagainya.

Untuk para pemula yang ingin berkecimpung dalam dunia olah raga tersebut di atas, yang dituntut harus memiliki perlengkapan pribadi antara lain harness yang jelas dilihat dari sisi nominal harganya relatif mahal, maka akan dijelaskan  beberapa  jenis  harness yang  mudah-mudahan  dapat  mempermudah memilikinya.

SEAT HARNESS

Tipe ini sering digunakan untuk kegiatan olah raga panjat tebing karena mempunyai kenyamanan untuk posisi pinggang dan paha serta lebih praktis untuk digunakan oleh siapa saja, ada berbagai macam model serta merk yang dapat kita jumpai dan dapat kita miliki sesuai selera masing-masing.

Sebagai contoh dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 11.  ALPINE CONTROL

Model Seat  harness yang menggunakan Beckle dan dapat digunakan oleh beberapa ukuran paha yang berbeda dapat diperbesar dan diperkecil lingkarannya.

Gambar 12.  APOLLO

Model Seat  harness yang ini pada lingkar pahanya tidak menggunakan Beckle dan penggunanya lebih jelas dengan ukuran pahanya masing-masing yang berbeda lingkarannya.

Full Body Harness

Jenis harness ini sering digunakan untuk kegiatan penelusuran gua (caving), karena mempunyai bentuk yang mengamankan tubuh secara keseluruhan dan lebih aman untuk aktifitas casing atau  rappelling yang  vertikal,  dan harness ini relatif jarang digunakan oleh kalangan petualang atau kalangan penggemar outdoor activity di Indonesia.

Gambar 13.  EVEREST LIGHT

Untuk lebih jelas bagaimana perbedaannya dengan seat harness dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Model Pull Body harness yang ini mempunyai lingkar paha dengan beckle dan lingkar pinggang serta lingkar pada punggung yang bertemu pada satu titik pada bagian badan, lebih mudah untuk aktifitas turun tebing atau rappelling serta ascending dengan pemasangan alat di depan tubuh kita dengan ukuran yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.
TALI TUBUH

Generasi sebelum Seat Harness kita kembali ke peralatan sebelum itu untuk aktifitas alam bebas dan sampai sekarang masih banyak digunakan oleh penggemar- nya karena mempunyai banyak kelebihan antara lain; dilihat dari nominal harga jauh lebih murah, dapat dijumpai dibanyak tempat, ukuran dapat disesuaikan dengan keinginan pemakai atau selera dan mempunyai warna yang bermacam-macam.

Gambar 14. SEAT HARNESS dengan Tali Tubuh

Adapun  kekurangan  dari  tali  tubuh yaitu  untuk  kenyamanan  memang  tidak bisa dijamin karena tidak menggunakan bantalan lagi seperti seat  harness,  untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar di bawah berikut ini :

Gambar 15. FULL BODY dengan Tali Tubuh

Untuk ukuran panjang webbing yang dapat digunakan untuk tali tubuh sekurang-kurangnya dengan panjang 4,5 meter dengan bahan nylon yang berbentuk melingkar, dan untuk tambahan guna membuat pull body dapat ditambah sesuai ukuran tubuh pengguna untuk standar adalah 2 x tali tubuh dengan ukuran 4,5 meter.

Other Equipment

Peralatan yang sering digunakan untuk kegiatan alam bebas sangat banyak sekali baik dari jenis, bentuk serta modelnya. Kita harus dapat memilah dan memilih peralatan mana yang cocok untuk kegiatan yang akan kita lakukan, jadi keberangkatan kita pada suatu tempat sudah terencana dan membawa peralatan sesuai dengan yang direncanakan.

Gambar 17. CARABINER  SCREW GATE (Lock)

Perlunya mengetahui peralatan merupakan bekal dari kita untuk melangkahkan kaki di dunia petualangan, karena perbedaan kecil tapi mempunyai kegunaan yang berbeda pasti bakal ditemui untuk peralatan yang digunakan  antara  panjat  tebing  (rock   Climbing)   dengan  penelusuran  gua (caving) dan lain sebagainya.

Gambar 18.  CARABINER  SNAP GATE (Non Lock)

Gambar 19.  ASCENDING EQUIPMNET

Gambar 20.  DESCENDING  EQUIPMENT

Gambar 21.  BELAY EQUIPMENT

Gambar 22.  PULLEY

Gambar 23. HELMET

ANCHOR (Pengaman)

Pemilihan tambatan yang baik adalah hal pertama yang penting dalam pemasangan   sistem   belay.   Tidak menjadi pertimbangan dalam isolasi, walaupun demikian merupakan hal yang menentukan dalam penentuan lokasi dari pem-belay-an. Tipe terbaik dalam menentukan tambatan adalah tempat yang dapat menerima tarikan dari berbagai sudut, termasuk tarikan dari arah atas seperti pohon dan rekahan/galur. Seringkali tambatan harus dibuat dari paku hal ini cukup baik pada saat tali yang tertambat pada tambatan mendapat tarikan  dari  arah  bawah.  Idealnya  tambatan  tidak  terlalu  jauh  dari  posisi belayer dan lebih tinggi dari belayer.

Seringkali hanya satu posisi berdiri yang memungkinkan untuk digunakan, pilih posisi yang paling baik untuk mengamankan orang yang memanjat dengan mempertimbangkan hal-hal :

·     Posisi belayer harus dapat mengikuti kemajuan dari pemanjat pada tahapan (pitch) sehingga belayer dapat membantu memberikan saran dan semangat.

·     Bila  memanjat  dengan  pemula,  maka  penting  untuk  dapat  secara langsung lokasi mulai pitch untuk pengawasan ikatan pamanjat pemula dll.

·     Tali harus diusahakan bebas dari runtuhan lepas

·     Tali tidak boleh melewati batuan tajam.

·       Belayer harus mempunyai tempat yang cukup lapang sehingga posisi ideal dari belayer dapat diterapkan, baik itu berdiri maupun duduk dengan posisi pijakan yang baik bagi kaki.

·     Posisi dari belayer,  jika memungkinkan berdiri segaris antara tambatan dan pemanjat. Sehingga apabila pemanjat tergelincir/jatuh maka tali antara belayer dan pemanjat akan menegang sehingga bila belayer berada diluar posisi/tidak segaris dengan pemanjat dan tambatan, belayer akan terseret.

Penempatan Belayer kepada Tambatan

Tali yang mengikat pinggang dilewatkan kepada tambatan dan belayer takes up his stance.   Ujung tali yang telah dikaitkan kepada  tambatan dikaitkan kepada susuk pinggang dan diikatkan dengan sosok bentuk 8. Yang perlu diperhatikan adalah pada saat belayer telah siap untuk mem-belay maka tali antara belayer dan tambatan tidak boleh kendur.

Pijakan Belay Tied off at the anchor

Cara  alternatif  dari  cara  tersebut  di  atas  adalah  mengikatkan  simpul bentuk 8 atau simpul overhand pada tali yang diambil dari pinggang dan menempatkannya pada tambatan. Hal yang sulit adalah mengatur panjang dari belay, keuntungannya belayer dapat melepaskan dirinya dari tali jika diperlukan sementara membiarkan orang kedua diamankan.

Thread belay

Tambatan thread adalah lobang alam atau celah diantara batu dimana tali  dapat  dilewatkan  untuk  mendapatkan  tambatan  yang  dapat  menahan tarikan dari beberapa arah. Pada kenyataannya tambatan tersebut terbuat dari batuan atau tonjolan kecil pada rekahan dan harus diperiksa dan dicoba apakah cukup kuat. Tambatan ini merupakan tambatan yang paling aman. Terdapat beberapa jenis cara untuk menggunakan tambatan tersebut.
BELAYING (Penambat)

Mem-belay adalah untuk menyediakan perlindungan pemanjatan bagi anggota kelompok pendaki dengan menggunakan tali.  Prinsipnya adalah pada saat  yang  sama hanya  satu orang  yang  melaksanakan pendakian  yang mana proses  pendakian  tersebut diamankan  dengan tali yang diatur oleh belayer.   Sementara itu belayer sendiri telah mengamankan dirinya dengan menambatkan tubuhnya dengan sosok tali yang diikatkan pada tebing.

Pemanjatan dilaksanakan dengan cara membagi lintasan kedalam beberapa pitch (tahapan pemanjatan) dimana setiap tahapan dimulai dan selesai pada belay.  Pada kasus ini bila anggota pemanjat terjatuh maka dia akan dapat diamankan oleh belayer.

Pada situasi di gunung pemimpin  kelompok  harus selalu  berada  pada  posisi dimana dia harus dapat menahan kemungkinan terjatuh dari atas. Meskipun demikian selalu bersiap terhadap kemungkinan yang buruk dan memiliki pengalaman menghadapi kejatuhan pemimpin. Kemungkinan yang terbesar adalah mengamankan kelompoknya dengan melakukan pemanjatan pendek-pendek (short rock  pitch) atau menyeberangi punggungan terbuka.

Pada kasus tersebut dia harus dapat menyediakan tali yang aman walaupun dengan resiko menanggung beban anggota dan menurunkan anggota tersebut ke dasar tahapan pendakian.

Harus disadari bahwa sistem belay memiliki beberapa komponen yang saling tergantung.   Peralatan yang buruk, simpul yang tidak kuat, kurang perhatian dari kelompok, tambatan yang buruk, dan tali yang kuat membuat semua persiapan menjadi tidak berharga

TOP ROPING and SLINGSHOT SETUP


SCAMBLING

Bentuk dataran pada pegunungan seringkali menimbulkan keuntungan tersendiri. Berbagai bentuk dari tonjolan batuan sering dapat menjadi alat menuruni bukit. Sayangnya tidak semua lereng menyengkan seringkali lereng dapat menyebabkan terkilirnya kaki dan kondisi lebih parah dari itu bagi kelompok yang terlalu semangat untuk turun.

Terdapat dua bahaya yang perlu diwaspadai : batuan yang mudah lepas dan tebing yang tersembunyi.  Bahaya ini dapat dihidari dengan cara menjaga kelompok tetap bersama-sama atau memberikan jarak perorangan secara horizontal.   Yang penting adalah menghindari lepasnya reruntuhan batuan. Kadang-kadang lerengan diakhiri dengan tebing dimana hal Ini sulit untuk diamati dari atas, terutama bila terdapat lereng lanjutan setelah tebing tersebut.
TEKNIK MEMANJAT TEBING

Hal yang menyenangkan dari memanjat karena kegiatan ini seringkali terjadi secara spontan dan tidak sulit.  Tentunya terdapat beberapa tehnik yang harus dipelajari dan pemanjatan modern sering kali melibatkan penggunaan peralatan khusus yang canggih. Tetapi dari semua itu, kegiatan ini muncul secara alami.

Meskipun   demikian   terdapat   beberapa   prinsip   dasar   yang   bila diterapkan pada cara memanjat yang alami akan dapat memperbaiki cara, kemampuan memanjat, membantu meningkatkan kepercayaan diri dan memudahkan pemimpin kelompok. Beberapa prinsip dasar tersebut adalah :

·   Dari dasar tebing amati dan bayangkan jalur yang akan ditempuh.

·   Memanjat dengan gerakan yang teratur, antara tempat beristirahat dan langkah selanjutnya.

·   Sebisa  mungkin  dalam  melakukan pemanjatan beban dan keseimbangan bertumpu pada kaki bukan pada tangan.

·   Pertahankan tiga posisi pada batuan/tebing dan 1 posisi mencari  pijakan  (Tiga  kuat  satu mencari).

·   Jaga tangan tetap rendah dan hindari tangan yang terlalu membentang.

·   Jaga tumit tetap rendah dengan engkle yang lentur amati dimana tempat akan menempatkan kaki.

·   Uji Pegangan yang meragukan.

·  Gunakan logika dalam menterjemahkan prinsip- prinsip tersebut.

ABSEILING

Terdapat  kecenderungan  pada  beberapa  orang  untuk  mengangap remeh abseiling. Tercatat setiap tahun pemanjat berpengalaman, jatuh karena abseiling, dan sering kali karena kesalahan yang dasar sepele. Sebagai teknik untuk menuruni tebing sulit seperti di Alpen dan pegunungan di Inggris yang merupakan  hal  yang  biasa  untuk  menuruni  puncak  tebing.  Juga  dapat digunakan oleh leader kelompok penjelajah, menuruni tebing  untuk membantu seseorang yang terjatuh dimana tidak ada jalan lain untuk mencapainya.

Pada saat lain abseil digunakan oleh leader untuk menuruni pitch untukmenyelesaikan masalah gawat-darurat. Harus menjadi penekanan adalah jika di kelompok penjelajah/pejalan kaki maka abseil hanya dilakukan oleh leader dari kelompok dan bukan oleh anggota kelompok.  Hal ini dikarenakan tidak adanya tali penyelamat dan beberapa pelaku harus melakukan tanpa tali cadangan dari atas.

ABSEIL KLASIK

Ini merupakan cara dasar dari penggunaan tali dan semua pelaku harus terbiasa melakukannya. Tidak diragukan  lagi  cara  ini  memang memiliki banyak kekurangan dan bukan satu-satunya pilihan, tapi cara ini cara yang sangat sederhana. Cari tambatan yang baik, bila mungkin setinggi kepala dan harus memungkinkan tali bergerak dengan bebas bila ujung tali yang satu ditarik,   hal   ini   memungkinkan   tali ditarik jika proses abseiling selesai. Uji kekuatan tambatan sebelum abseiling dimulai dengan  cara  memberikan beban seluruh tubuh pada tali.  Salah satu kekurangan dari cara ini adalah dapat merusak pakaian kita dan tubuh jika kurang hati-hati. Gunakan sweater untuk melapisi anorak, tambahkan bahan-bahan yang empuk pada bagian dimana tali akan lewat dan yang terpenting gunakan sarung tangan.

Memulai abseiling ini agak sedikit sulit terutama pada langkah awal. lakukan satu-dua langkah sampai didapat posisi luncur yang baik. Gesekan pada tubuh biasanya membuat lambat pergerakan. Lakukan perlahan-lahan, jangan mencoba menahan berat tubuh dengan cara menahan tali pada tangan atas, Untuk mengurangi kecepatan luncur gunakan tangan bawah. Penting juga untuk mengulur tali yang melintasi tubuh untuk mengurangi gesekan pada tubuh. Tahan keinginan untuk dengan segera meluncur turun. Perhatikan Batuan yang gugur karena tali dan kaki.

Bagi yang telah terbiasa dengan tehnik pemanjatan, biasanya penggunaan tali tubuh/ seat  harness dan carabiner screw gate/ Figure  of 8 memudahkan proses abseiling, cara ini hampir sama dengan abseiling klasik hanya saja kaitan tali bukan pada tubuh tapi pada carabiner.

ASCENDING DAN PUSSIKING

TRAVESING




 
Leave a comment

Posted by on Tuesday, January 1, 2013 in Survival, Teknik Kepramukaan

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: