RSS

Membaca Peta

01 Jan

1.     PETA
Peta adalah gambar permukaan bumi atau bagian-bagian dari permukaan dalam bidang datar yang diperkecil menurut Skala atau Kedar tertentu.

2.     SKALA
Skala atau Kedar adalah perbandingan jarak rata-rata antara dua titik pada peta itu dengan dua titik dimedan yang serupa atau sebenarnya.
Skala 1: 50.000 berarti I (satu) Cm di peta sama dengan 50.000 Cm di medan atau di tempat sebenarnya.
Perlu diingat bahwa Skala itu bukanlah perbandingan luas di peta dengan luas di medan. Jadi peta yang Skalanya 1: 50.000 itu bukan berarti lebar jalan, lebar sungai, luas pekarangan dan sebagainya yang harus diperkecil 1/50.000-nya.
Peta yang baik untuk kegiatan Pramuka atau pecinta mendaki gunung adalah peta yang berskala 1: 50.000 yakni peta topografi yang dibuat oleh Jawatan Topografi atau Departemen PUTL atau yang dimiliki ABRI. Karena peta topografi yang berskala 1: 50.000 itu dibuat dengan sangat teliti.

3.     KETINGGIAN
Ada dua macam ketinggian yang kita kenal, yaitu:

a.    Ketinggian Sebenamya (K.S):
yaitu ketinggian yang diukur dari permukaan air laut Bila tinggi gunung adalah 3.000 M,maka tinggi gunung tersebut 3.000 M dari atas permukaan air laut.

b.    Ketinggian Nisbi (K.N):
yaitu ketinggian yang tidak diukur dari permukaan air laut. Misalnya tinggi Gedung Kwarda DKI Jakarta, di JI. Diponegoro No. 26 adalah 15 M, maka pengukuran tinggi Gedung Kwarda itu adalah dari pondasinya, bukan dari permukaan air laut.

4.     GARIS KETINGGIAN (G.K)
Garis Ketinggian adalah garis yang berbelok-belok tak teratur dan tertutup, yang merupakan persambungan yang sama tingginya (tinggi sebenarnya) dihitung dari permukaan air laut. Pada Peta Topografi ABRI, G.K ini diberi warna coklat. Dengan mempelajari garis-garis ketinggian itu, dapat kita peiajari ketidak rataan suatu daerah atau dapat kita bayangkan keadaan suatu medan yang sebenarnya.

Macam-macam G.K :
a.    G.K yang dinyatakan dengan garis tipis
b.    G.K yang dinyatakan dengan garis tebal (dinyatakan dengan yang ke 10, 20, 30 dan seterusnya).
c.     G.K yang dinyatakan dengan garis yang terputus-putus (merupakan G.K penolong yang tingginya setengah dari G.K. biasa).

Sifat-sifat G.K. :
Ketiga macam G.K tersebut di atas mempunyai sifat-sifat tertentu. Dengan mempelajari/memperhatikan sifat tersebut, kita dapat “membaca” keadaan medan pada peta.

Sifat-sifat G.K tersebut sebagai berikut :
a.     G.K pertama telah memiliki ketinggian, yaitu separuh dari bilangan angka ribuan pada Skala, dinyatakan dengan ukuran Meter.
Contoh : Skala peta misalnya 1 : 50.000, maka
G.K yang pertama adalah 1/2 x 50 M = 25 M.
G.K yang kedua adalah 2 x 25 M = 50 M.
G.K yang ke-10 = 250 M, yang ke-40 = 1.000 M, dan seterusnya.
b.    G.K yang pertama mengelilingi G.K yang kedua, yang kedua mengelilingi yang ketiga, demikian seterusnya.
c.    G.K yang ke-10, 20, 30, 40 dan seterusnya dibuat garis dengan garis tebal.
d.     G.K Penolong (dinyatakan dengan garis terputus-putus) menyatakan ketinggian separuh dari ketinggian biasa.
Contoh : Skala peta 1 : 40.000, maka
Tinggi G.K penolong adalah 1/2 x 40 M : 2 – 10 M.
e.     G.K yang mendekati puncak adalah G.K yang menjorok ke dalam, merupakan suatu Lembah (bagian yang rendah), berbentuk huruf V.
f.     G.K yang menjorok keluar atau menjauhi puncak merupakan Punggung Gunung berbentuk huruf U.

5.    TITIK KETINGGIAN (T.K)
Titik Ketinggian (T.K) adalah titik yang telah diukur tingginya (oleh Jawatan Kadaster) dalam sebutan Meter.

T.K ini dilapangan dinyatakan dengan “Patok Beton” yang ditanam tepat seperti tertera dalam Peta. Dengan memperhatikan G.K dan TK kita dapat mengetahui tingginya suatu titik di Peta.

6.    BENTUK TANJAKAN
Sangatlah penting sekali “membaca peta” antara lain dapat mengetahui bentuk tanjakan. Pendaki gunung pasti akan menghindari medan yang berat dan membahayakan. Untuk dapat mengetahui bentuk tanjakan, perlu dipelajari beberapa G.K yang berurutan, seperti dibawah ini.

Keterangan :
A-E = Tanjakan Terjal (Tanda-tandanya : jarak beberapa G.K sama dekatnya / pendek-pendek)
B-E = Tanjakan Cembung (Tanda-tandanya : jarak antara beberapa G.K tidak sama, makin ke puncak makin besar jaraknya).
C-E = Tanjakan Landai (Tanda-tandanya : jarak antara beberapa G.K lebar dan tidak sama besarnya).
D-E = Tanjakan cekung (Tanda-tandanya : jarak antara beberapa G.K tidak sama, makin ke puncak makin kecil).

Latihan memecahkan soal Skala, G.K, TX dan Tanjakan:

a.     Serombongan ambalan Penegak Dr. Soetomo mengadakan pendakian suatu gunung yang tingginya 1.600 M. Mereka menggunakan peta berskala 1:40.000 dan memutuskan berkemah di gunung itu dengan memasang tenda yang tersebar. Sangga Pedoman mendirikan tenda pada titik G.K ke-25. Sangga Perintis berkemah pada G.K ke-20 dan Sangga Penerus mendirikan tenda pada G.K ke-19.
Pertanyaan : Berapa tinggi dari permukaan air laut tenda-tenda Sangga tersebut.

b.    Seorang pendamping Penegak memberi penjelasan kepada dua orang Penegak Bantara yang akan mengadakan penjelajahan sebagai berikut :
“Adik-adik, surat jalan untuk adik-adik kakak simpan di T.K Quartier yang tingginya 275 M, T.K itu bernomor Register 226”.
Pertanyaan : Bagaimana tanda T.K itu digambar Peta?

c.     Fitri Rachmawati, Pemimpin Regu Melati mengirim berita sebagai berikut :
“Yanti jatuh sakit di T. 24 harap segera kirim petugas PPPK. 2910
Pertanyaan : Apa arti tanda peta itu?

d.    Kak Salam, Pembina Penggalang memimpin perkemahan dengan penempatan regu-regu sebagai berikut :
1).     Regu Elang berada di GK yang ke-10, tingginya 400 M
2).     Regu Melati dibawah Pimpinan Kak Hamsina berada di G.K ke-9, tingginya 350 M.
3).     Regu Gagak di bawah pimpinan Kak Jasmin berada di GK ke.-12
4).    Regu Teratai di bawah pimpinan Kak Jannah berkemah di G.K ke-7.
Pertanyaan :
a)     Berapa tinggi Tenda Regu Gagak dan Regu Teratai dari permukaan air laut?
b)     Berapa Skala Peta yang mereka gunakan?

e.    Perhatikan gambar di bawah ini.

Pertanyaan    :
a)     Berapa Skala Petanya?
b)     Berapa tinggi kemah A dan B dari permukaan air laut?
c)     Buatlah garis yang menunjukkan mereka mengadakan pendakian?

7.     ARAH UTARA
Semua orang tahu bahwa dunia itu bulat, karena itu kita tidak mungkin membuat gambar dunia atau bagian-bagian dari dunia menjadi peta yang berbentuk datar, tanpa merubah arah/bentuk. letak dari bagian-bagian yang bulat itu. Sebab itu arah dan letak pada peta perlu ada koreksi. Akibatnya maka kita mengenal 3 (tiga) macam arah yaitu :

a.    Utara Sebenarnya (U.S) yaitu garis-garis yang menghubungkan titik-titik pada luas bumi dengan kutub Utara.
b.    Utara Peta (U.P) yaitu arah yang ditunjukkan oleh garis-garis tegak lurus dari jaring peta dari bawah ke atas.
c.    Utara Magnetis (U.M) yaitu arah 0° atau 360° yang ditunjuk oleh jarum Kompas.
Pada Peta Topografi Tanda utara tersebut ditandai dengan gambar:

8.    IKHTILAF (DEKLINASI/DEDLINATION/AFWIJKING)
Telah diterangkan seperti tersebut di atas, bahwa tidak mungkin membuat gambar dunia atau bagian-bagian dari dunia menjadi peta yang berbentuk datar, tanpa merubah arah/bentuk/letak dari bagian-bagian yang bulat itu.
Karena itu U.S tidak sama dengan UP atau U.M. Perbedaan derajat itu disebut IKHTILAF atau AFWIJKING.

Dengan demikian kita mengenal 3 (tiga) macam IKHTILAF, yaitu:

a.    IKHTILAF U.S-U.P. disebut juga IKHTILAF PETA (GRIO DECLINATION)
Adalah sudut yang dibentuk oleh dua buah garis yang ditarik dari suatu titik yang masing-masing menuju ke UP dan U.S. Ikhtilaf U.S-U.P ini kadang-kadang Timur kadang-kadang Barat. Disebut “Ikhtilaf U.S.-U.P Timur” jika berada disebelah Timur atau disebutlah “Kanan” dari U.S.
Disebut “Ikhtilaf U.S-U.P Barat” jika UP berada disebelah Barat atau sebelah “Kiri” U.S.

Dalam menentukan Timur atau Barat selalu U.S menjadi patokan.
Contoh :

b.    IKHTILAF U.S-U.M ATAU IKHTILAF MAGNETIS (MAGNETIS, DECLINATION)
Adalah sudut yang dibuat oleh dua buah garis, ditarik dari satu titik masing-masing ke U.S dan ks U.M.
lkhtilaf U.S.-U.M disebut “Timur” jika U.M berada disebelah Timur/Kanan dari U.S.
Dalam menentukan Timur/Barat, U.S selalu menjadi patokan. Dalam waktu berlainan perubahan lkhtilaf U.S-U.M ini disebut dengan “Variasi Magnetis”.
Variasi Magnetis ini dapat berakibat “menambah/Increas” atau dapat pula “mengurangi/Decrease”.
Contoh :

c.    IKHTILAF UP-UM atau VARIASI MAGNETIS
Adalah sudut yang dibentuk oleh dua garis yang ditarik dari satu titik, masing-masing menuju UP dan U.M.
lkhtilaf U.P-U.M disebut “Barat” jika U.M berada disebelah Barat/Kiri dari U.P. lkhtilaf U.P-U.M dikatakan “Timur” jika U.M berada disebelah TimurlKanan dari UP
Dalam mencari lkhtilaf U.P-U.M, UP selaiu menjadi patokan
Contoh :

9.     AZIMUTH/SUDUT
Azimuth atau Sudut dihitung menurut jarum jam, artinya semakin ke kanan semakin besar sudutnya, sedangkan semakin ke kiri semakin kecil sudutnya. Semua sudut selalu mengambil patokan arah Utara, dan karena itu dikenal 3 macam arah Utara. Maka kita mengenal pula 3 macam Azimuth/sudut, yaitu :

a.    Azimuth Sebenarnya/Sudut Sebenarnya.
Adalah sudut yang dibentuk oleh dua buah garis, ditarik dari satu titik, masing-masing menuju US dan ke SASARAN (SAS). Menghitung Azimuth Sebenarnya tanpa pertolongan Peta dan Kompas adaiah tidak mungkin.
Contoh :

b.    Azimuth Peta/Sudut Peta.
Adalah sudut yang dibentuk oleh dua buah garis ditarik dari satu titik, satu garis menuju UP dan satu garis menuju ke SASARAN di peta itu.
Contoh :

c.    Azimuth Magnetis/Sudut Kompal
Adalah sudut yang dibentuk oleh dua buah garis, ditarik dari satu titik, masing-masing menuju ke 0/360 dan ke SASARAN di medan.

10.     POTONG KOMPAS
Potong Kompas adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain melalui jalan yang terdekat, dengan pertolongan sudut Kompas. Langkah-langkah yang harus dipersiapkan bila melakukan Potong Kompas adalah sebagai berikut :
a.    Menyiapkan Peta Topografi, sebuah Penggaris dan sebuah Prolektor/Pengukur Sudut/Busur Derajat.
b.     Mempelajari Peta Topografi, yaitu untuk menentukan titik berangkat dan titik tujuan (di peta).
c.    Dari titik berangkat ke titik tujuan (di peta) ditarik garis tipis dengan pertolongan penggaris dan pensil (agar mudah dihapus). Selanjutnya dengan pertolongan Busur Derajat dihitung sudut petanya.

Kini sudut petanya sudah diketahui.
Merubah susut peta menjadi sudut Kompas, caranya :
1)    Jika Ikhtilaf U.P-U.M itu Timur, maka sudut Kompas adalah SUDUT PETA DIKURANGI IKHTILAF U.P-U.M.
2).    Jika Ikhtilaf U.P-U.M itu Barat, maka sudut Kompas adalah SUDUT PETA DITAMBAH IKHTILAF U.P-U.M. Sekarang sudut kompas telah diketahui.
Dengan perlengkapan Hiking berangkatlah menuju ke “Titik Berangkat” di lapangan yang tadi telah ditunjuk di dalam peta.

Dari “Titik Berangkat” dengan berpedoman pada sudut Kompas tersebut ke “Sasaran”, incarlah suatu titik yang mudah dikenal di medan. Misalnya Pohon terkenal, Batu Besar, tonggak, Kuburan dan sebagainya.
Selanjutnya pergilah ke titik tersebut dengan sebanyak mungkin menghindari rintangan-rintangan alam (tanaman rakyat, rawa, bangunan dan lain-lain).
Demikian seterusnya dari satu titik ke titik berikutnya.

Menghitung Sudut Kompas menjadi Sudut Peta.

Sesuatu titik jauh di sana diincar dengan menggunakan Kompas, dengan demikian sudut kompasnya diketahui. Jika sudut kompas itu akan dirubah menjadi sudut peta, caranya sebagai berikut :
1)     Jika Ikhtilaf U.P-U.M itu “Timur” maka sudut petanya adalah : SUDUT KOMPAS DITAMBAH IKHTILAF U.P¬U.M.
2)     Jika Ikhtilaf U.P-U.M itu “Barat” maka sudut petanya adalah : SUDUT KOMPAS DIKURANGI IKHTILAF U.P¬U.M.

11.     RESECTION
Adalah menentukan letak suatu titik di peta, yaitu dimana kita berada. Resection dapat dilakukan bila kita tersesat dalam perjalanan penjelajahan.

Ada 2 (dua) cara melakukan Resection :
a.    Resection dengan menggunakan Kompas.
1)    Peta tidak perlu diorientasikan (tidak diorientasikan).
2)    Pilihlah medan (dengan melihat dari tempat kita berdiri) dua titik atau lebih yang mudah dikenal kembali dan yang mudah ditemukan dipeta. Titik tersebut sedapat mungkin merupakan sudut 30° s.d 150° dilihat dari tempat berdiri.
3)    Incarlah titik-titik tadi dengan Kompas dan catatlah sudut¬-sudut kompasnya.
4)     Hitunglah BACK AZIMUTH (Sudut Belakang) dari sudutyang kita catat tadi, cara menghitung BACK AZIMUTH, adalah sebagai berikut :
–    Jika sudut Kompas itu besarnya kurang dari 180° maka BACK AZIMUTH-nya adalah : SUDUT KOMPAS DITAMBAH 180°
–    Jika sudut Kompas besarnya lebihu dari 180 maka BACK AZIMUTH-nya adalah : SUDUT KOMPAS DIKURANGI 180°
5)     Setelah Back Azimuth itu kita dapatkan lalu rubah menjadi SUDUT PETA dengan memperhitungkan Ikhtilaf U.P-U.M.
6)     Dengan menggunakan busur derajat sudut-sudut peta tadi digambar di atas peta, sebagai titik pangkal adalah titik¬titik tanda tersebut pada (b).
7)     Titik potong/Silang yang kita buat di peta tadi adalah titik atau tempat di mana kita berdiri.

Keterangan Gambar Nomor : 004
:   Sudut Kompas dari A (tempat kita bediri) ke B (gunung).
:   Sudut Kompas dari A ke C (mesjid)
A    :  Tempat kita mengincar dengan Kompas dimedan (BELUM DIKETAHUI LETAKNYA DI PETA).
B    :   Puncak gunung (yang letaknya juga di peta).
C    :   Mesjid (yang terdapat pula di peta).
=    Setelah diketahui sudut AB dan AC lalu dibuat BACK AZIMUTH-nya dan diperhitungkan Ikhtilaf U.P-U.M menjadi sudut (ba) dan sudut (ca) di peta.
=    Periksalah gambar GAMBAR NOMOR : 005

Peta Topografi

d.    Recection tanpa Kompas.
1)    Peta tidak perlu dicocokkan letaknya.
2)    Carilah di medan, dimana kita berdiri/berada, 3 buah titik yang dapat dikenal kembali di peta. Titik-titik tersebut kita namakan titik A, B dan C.
Dan di peta kita namakan titik a, b dan c. Titik A, B dan C harus merupakan sudut antara 30 s/d 150.
3)    Ambilah sehelai plastik, tusuklah sebuah jarum ditengah-¬tengah plastik tersebut, plastik kita letakkan di atas landasan yang rata di tanah. Tempat tusukan jarum tadi kita namakan titik Q (titik sembarang di tengah-tengah plastik).
4)    Dengan penggaris incarlah dari titik Q berturut-turut ke titik A, B, dan C dan buatlah yang menunjukkan garis AQ, BQ dan CQ (titik Q sebagai patokan).
5)     Pindahkan plastik ke atas peta dan geser-geserlah sedemikian rupa sehingga garis AQ, BQ dan CQ bersinggungan dengan titik a, b, dan c di peta.
6)    Setelah itu kita tusukan jarum pada titik Q di peta sehingga peta tidak dapat terlepas.
7.    Titik Q di peta adalah tempat kita berdiri

12.    INTERSECTION
Adalah menentukan suatu titik di peta yang kita kenal. Ada 2 (dua) cara Intersection, yaitu :
a.    Intersection dengan menggunakan Kompas.
1)    Peta tidak perlu dicocokkan letaknya lebih dahulu.
2)    Dari titik (A) di medan yang mudah ditemukan kembaG di peta sebagai titik (a), kita incar ke titik (C) yang harus ditentukan letaknya. Sudut kompas dari (A) ke (C) dapat dibaca di Kompas.
3)    Kita lakukan pekerjaan yang serupa di titik (B) (di peta menjadi titik b).
4)    Kedua sudut kompas itu (dari A dan dari B) kita rubah menjadi sudut peta dengan memperhitungkan Ikhtilaf U.P¬U.M, lalu kita rubah menjadi Back Azimuth dan kita gambar di peta dengan pertolongan busur derajat.
5)    Titik potong dari sudut (ac) dan (bc) adalah titik c (tempat yang dicari).

b.    intersection tanpa menggunakan iSarrlpas,
1)    Peta harus dicocokkan lebih dahuiu. varanya : letakkan peta di medan begitu rupa sehingga beberapa tanda di peta sama letaknya dengan keadaan sesungguhnya di medan.
2)     Pergilah ke titik (A) di medan yang mudah ditemukan kembafi di peta sebagai titik (a).
3)    Taruhlah peta di tanah dan cocokkan letak peta itu dan tusuklah sebuah jarum di titik (a).
4)    Taruhlah penggaris melalui jarum itu dan tariklah garis lurus dari titik (a) di peta menujiu titik (C) di medah (C adalah tempat yang kita cari).
5)    Pergilah ke titik (B) – sebelah kanan/kiri dari titik A – dan ulangi pekerjaan serupa tersebut, (c) dan (d) menuju titik (C).
6)     Titik potong kedua garis tersebut adalah titik (C) yang dicari.

13.     MENENTUKAN TITIK PADA PETA TOPOGRAFI.

Dalam INTERSECTION dan RESECTION telah kita ketahui cara menentukan suatu titik di peta topografi. Jika letak suatu titik di peta tadi akan kita beritakan kepada orang lain, kita perlu mengetahui metode pemberitaannya. Bayangkan kalau kita akan memberitakan letak titik tadi pada orang lain dengan cara tertulis atau pertelepon, maka akan terasa sulitnya cara menyatakan maksud kita, tanpa metode yang tertentu.

Cara menentukan suatu titik pada peta topografi itu ada 3 (tiga cara), yaitu :
a.    Dengan 4 angka
b.    Dengan 6 angka
c.    Dengan 8 angka.

a.    Menentukan titik pada Peta Topografi dengan 4 Angka.
Tiap-tiap lembaran peta topografi terdapat garis-garis koordinat dengan angka-angka, mulai angka 1 berturut-turut dari BERAT/
KIRI ke TIMUR/KANAN dan dari BAWAH/SELATAN ke ATAS/ UTARA.
Pada ujung atas bagian kanan dari tiap-tiap lembaran peta terdapat nomor lembaran petanya. Menentukan titik dengan 4 Angka dilakukan dengan menunjuk 2 angka terakhir dari KIRI lalu 2 angka terakhir dari BAWAH.

Lihat Contoh Gambar ini.
Titik A berada di koordinat 1104
dan titik B berada di koordinat 1203.

b.    Menentukan Titik pada Peta Topografi dengan 6 Angka.

Kita tahu bahwa dengan cara 4 angka adalah kurang sempurna, sebab 4 angka itu menunjukkan satu bujur sangkar yang kenyataannya di medan luasnya adalah 1 Kmz. Kita perlu suatu cara menunjukkan yang lebih teliti, ialah dengan cara 6 angka.

Caranya, kita bagi bujur sangkar dimana titik itu berada menjadi 10 bujur sangkar kecil-kecil yang sama besarnya, selanjutnya:
1)    Sebutkan nomor LEMBARAN PETANYA,
2)    Dua angka terakhir dari garis kiri titik itu.
3)    Jarak antara titik itu dan garis kiri dari titik itu dinyatakan dengan puluhan.
4)    Dua angka terakhir dari garis bawah titik itu.
5)    Jarak antara titik itu dan garis bawah dinyatakan dengan puluhan.

Lihat Contoh Gambar ini.

Titik X berada di koordinat 113046 dan
titik Y berada di koordinat 120040.

c.    Menentukan Titik pada Peta Topografi dengan 8 Angka.
1)    Sebutkan nomor lembaran petanya.
2)    Dua angka terakhir dari garis kiri dari titik itu
3)     Jarak antara titik itu dan garis kiri dinyatakan dengan perseratusan.
4)    Dua angka terakhir dari garis Selatan titik itu.
5)     Jarak antara titik itu dengan garis Selatan dinyatakan dengan perseratusan.

14. TANDA-TANDA PETA

Tanda-tanda peta dibedakan menurut

a.    Tanda-tanda Peta menurut Warnanya.

1)    Merah  :    Kontruksi dari Batu, Jaian-jalan.
2)    Biru     :    Kontruksi dari Besi, air, sawah.
3)    Hitam  :    Kontruksi dari Kayu, Bambu dan tanaman
4)    Hijau    :    Daerah yang didiami dan bertumbuh-tumbuhan.
5)    Coklat  :    Ketinggian dan kedalaman dari permukaan bumi
6)    Kuning :    Batas-batas perkebunan, jalan-jalan.

b.    Tanda-tanda Peta Menurut Bentuk
Tanda-tanda peta untuk bagian-bagian dan benda-benda mempunyai denah, seperti jembatan, bangunan dan lain-lain digambar dengan arah letak yang tepat. Sedangkan tanda¬tanda peta untuk bagian medan yang berdenah (Misalnya tiang, batas, pohon) digambarkan dengan arah letak ke UTARA PETA.

Perhatikan gambar di bawah ini.

 
Leave a comment

Posted by on Tuesday, January 1, 2013 in Pemetaan, Teknik Kepramukaan

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: